As I grow to understand life less and less,I learn to love it more and more...

Sabtu, 17 Agustus 2013

kata hati

perihal meragu...
barangkali hatiku sebenarnya tahu apa yang aku mau
hanya saja aku terlalu takut melangkah maju

perihal menyerah...
barangkali hatiku tahu kalau ia masih ma(mp)u bertahan
hanya saja aku terlalu takut kesakitan

perihal melepaskan...
barangkali hatiku tahu bahwa ia belum sepenuhnya berjuang
hanya saja lelah terus memaksanya untuk menyerah

perihal mencintaimu..
hatiku tahu pasti bahwa ia masih, selalu dan akan selalu mencintaimu

Kamis, 25 Juli 2013

20

malam belum terlalu larut ketika dering ponselku berbunyi.laki-laki itu rupanya yang menelpon. dia, laki-laki yang sudah tujuh bulan ini berada di sisiku, melewati hari demi hari dan berbagi banyak cerita tentang kehidupan. segera aku beranjak ke luar rumah. tak perlu aku menjawab telepon darinya karena aku tahu bahwa dia pasti sudah menungguku di depan sekalipun dia tak memberi kabar tentang rencana kedatangannya. masih dengan hati yang sedikit dongkol karena pertengkaran kami semalam, aku berjalan menghampirinya. seulas senyum darinya menyambutku diiringi dengan sebuah kotak besar berbungkus kertas kado dan pita berwarna hijau. seketika aku tertegun melihatnya tersenyum sambil menyerahkan kado itu padaku dan berucap "maaf"
dia pun berlalu, segera aku masuk ke rumah dan membuka kotak besar itu, dan ternyata di dalamnya ada sebuah boneka, surat cinta, dan tujuh origami love. di balik rambut gondrongnya dan penampilannya yang acak-acakan, dia memang laki-laki yang manis dan berhati lembut. seketika aku mengingat sehari kemarin ketika kami bertengkar adalah tanggal 20. tanggal yang bagi orang lain mungkin biasa, tapi tidak bagi kami. 20, angka yang bermakna. dan mungkin karena terlalu bermakna ketika aku tidak menemaninya di hari itu, pertengkaran pun terjadi
aku mulai membaca rangkaian kata yang dia tulis, selama aku bersamanya, aku tahu kalau dia memang bukan tipe laki-laki yang suka menulis atau mengirimkan kata-kata puitis. mungkin karena kata terlalu rumit untuk menjelaskan semua perasaannya kepadaku. tapi, rangkaian kata yang dia tulis di surat itu ternyata mampu menghipnotisku

dear my love..
harus mulai dari mana kutulis kata-kata. terlalu banyak hal yang terekam dalam otakku. harus ku mulai dengan kebahagiaan atau kesedihan. terima kasih.. mungkin itulah yang paling pantas ku tulis terima kasih atas kebahagiaan yang tercurah padaku. terima kasih atas pelukan yang menghangatkanku. terima kasih atas senyuman yang menghangatkanku. tujuh bulan telah berlalu dengan ribuan kenangan. banyak rasa yang meninggalkan jejak di hatiku pada setiap lembaran harinya. aku berharap di hari yang akan datang. semoga aku tetapa dapat menjadi pendamping atas hati dan hidupmu. terasa sedikit kata-kata ini tertulis sebagai suara hatiku. maaf atas tak sempurnanya diriku..

lengkungan manis di wajahku pun tercipta kala aku membaca kata demi kata. terima kasih untuk wujud dari apa yang tak terwujud, mas, maaf bila aku pun belum bisa menjadi sosok yang sempurna untuk dirimu :)

Kamis, 20 Juni 2013

deja vu

Rintik gerimis menyambut ketika aku memasuki kota itu. Seketika hatiku bertanya, kenapa harus gerimis? Aku suka dengan gerimis ataupun hujan, tapi jujur hari itu aku tak ingin hujan turun. Sekalipun hujan tak turun, aku sadar bahwa kenangan itu memang selalu menyeruak liar memenuhi pikiran.

Berdiri di tempat ini, semacam memutar kembali rekam jejakmu yang pernah kamu torehkan disini, hati.Menyusuri alun-alun Jogja, benteng Vredeburg dan Malioboro. Tempat itu masih sama, tak ada yang berubah, namun aku merasa ada perasaan yang berbeda yang aku rasakan. Pernah merasa bahagia sekaligus sedih di saat yang bersamaan? itulah yang aku rasakan. Aku bahagia bisa kembali menginjakkan kakiku lagi di tempat ini. Seketika ada rindu hebat yang berdesir, perlahan tapi pasti, semakin besar dan membuncah hingga air mata pun tumpah, pecah.

Kau tahu? Setiap hujan turun dan menyentuh tubuhku, aku merasa teduh dan lebih hidup
Kau tahu? Setiap hujan turun, suara hatiku berteriak lantang memanggil namamu diantara derasnya suara rinai hujan. Tidak kah kau mendengarnya? 
Kau tahu? Setiap hujan turun, aku selalu melantunkan namamu lirih dan menitipkan beribu rindu dan harapanku ku pada hujan agar sampai ke tempatmu.
Kau tahu? Setiap hujan turun, aku selalu membayangkan kau datang dan mengajakku menari bersama hujan
Kau tahu? Aku masih berharap kelak kita menyusuri Malioboro dalam teduhnya hujan lagi

dan apa kau tahu? Aku masih mencintaimu diam-diam dengan dalam.

Rabu, 29 Mei 2013

Perahu Kertas

Membaca novel perahu kertas rasanya semacam membaca kisahku sendiri. adanya kesamaan cerita, Mungkin itulah alasan kenapa aku tak pernah bosan mengarungi ceritanya berkali-kali. Ingatanku beputar ke masa kecil. Aku ingat ketika hujan turun, aku akan merasa sangat bahagia karena aku bisa menari bersama hujan dan merasakan teduhnya. Selepas hujan, aku selalu melarungkan perahu kertas ku di selokan. Ada semacam perasaan yang tak tidak dapat ku deskripsikan ketika perahu kertas ku melaju dan tidak hancur terurai oleh air...


24 mei 2013...
Dengan perasaan yang berkecamuk, aku berdiri di tepian laut dan menikmati semilir angin. Aku selalu suka dengan laut. Seperti yang tertulis di novel perahu kertas, debur ombak adalah suara alam yang paling merdu. Namun entah kenapa sore itu aku kurang bisa menikmati alunan merdunya. Semacam ada rasa kecewa, marah, sedih yang kurasakan saat itu dan menangis tanpa air mata sakitnya memang juara. 
Satu nama yang mampu menghancurkan seluruh sistem kinerja otak dan mengobrak-abrik perasaan. Aku telah tertampar kenyataan. harapan dan impian ku tentangnya seakan runtuh seketika setelah aku tahu bahwa dia memang bukan seharusnya untukku, Sekalipun perih, aku tetap tak ingin menyalahkannya atas kebohongan yang dia simpan sejak awal kami bertemu. Mungkin memang salahku yang menempatkan harapanku terlalu tinggi dan salah mengartikan tentang apa yang dia katakan padakau selama ini.
Sedari dulu logika selalu berkata "jauhi dan lupakan dia!" tapi hati terus melawan. Melupakan memang sia-sia, tidak akan bisa. Mungkin lebih tepatnya adalah menghilangkan perasaan. Tapi apapun itu, hati tetap tak bisa. Setiap menjauh dari satu nama itu, entah kenapa selalu ada kebetulan yang mempertemukanku dengannya, kebetulan yang disengaja Tuhan. Disampingku, ada seseorang yang begitu nyata, ada dan selalu membuat bahagia untukku tapi satu nama itu tetap saja mengikutiku, bahkan masih mendiami ruangan di hatiku. 
Lelah... aku lelah berada dalam situasi seperti ini. Bertahan dalam kebohongan tak kan membawa kebahagiaan. Aku selalu membohongi diriku kalau aku sudah terlepas dari satu nama itu beserta segala kenangannya. Terlebih lagi aku juga membohongi seseorang yang begitu tulus menemani dan membahagiakanku. Mungkin benar seperti yang tertulis di novel perahu kertas bahwa, 
hati kamu mungkin memilihku, seperti juga hatiku selalu memilihmu. Tapi hati bisa bertumbuh dan bertahan dengan pilihan lain. Kadang, begitu saja sudah cukup. Sekarang aku pun merasa cukup....



.....kamu adalah samuderaku. kularungkan perahu kertasku menuju tempatmu, entah nanti masih berbentuk sama atau akan hancur dihempas sang ombak


Perihal Hujan...

Hujan..

Hujan mengetuk jendela kamar sedang rindu mengetuk jendela hati, dan pelukanmu hanyalah sebatas angan...

Hujan adalah alunan sendu bagi mereka yang hatinya pilu karena merindu...

Hujan selalu memiliki kekuatan untuk mengenang masa silam. dan selepas hujan, selalu ada air (mata) yang menggenang…

Hujan bisa menjadi pembasuh segala peluh tapi tidak selalu bisa menjadi peneduh bagi segala rindu yang berteriak gaduh...
  
Aku adalah rintik hujan pagi sedang dia adalah matahari yang kau nanti kehadirannya...



.... dan lihatlah keluar sayang, bukankah ada terang setelah awan gelap dan hujan, lalu mengapa kau masih muram menangisi kesedihan? 

  

Sabtu, 16 Maret 2013

ketika hanya mampu mencintai diam-diam

beberapa orang menyukai teka-teki, seperti memilih tidak menyatakan cinta pada orang yang sebenarnya sangat ia cintai. mungkin karena takut untuk menerima jawaban yang mungkin akan mengecewakan, karena tidak tahu bagaimana cara menyampaikan atau karena memang ada hati yang harus dijaga agar tidak terluka
dan karena alasan-alasan itulah aku memilih untuk mencintaimu diam-diam. bukan tidak ingin memperjuangkan tapi memang barangkali memang sang waktu tidaklah tepat. atau cinta memang datang tak mengenal waktu? entahlah…
mencintai diam-diam dengan dalam-dalam terkadang menyakitkan, hanya mampu memandang dari kejauhan tanpa bisa menyentuh dan ketika rindu datang menyergap tetap saja yang mampu dilakukan pada akhirnya adalah memendam. 
terkadang logika berkata padaku agar aku menyerah, kalau memang sakit mengapa terus dipaksakan? tapi hati berkata lain, ia terus berbisik untuk tidak menyerah meski terkadang mencintaimu terasa lelah dan susah payah.
pada akhirnya, yang mampu kulakukan sejauh ini hanyalah memendam dan tetap mencintaimu diam-diam. aku dan kamu menjadi “kita” adalah sebuah mimpi yang bisa menjadi kenyataan atau hanya sebatas mimpi terindah yang memang harus terkubur oleh pahitnya realita dan cukup kupandang dari kejauhan dan kunikmati saat aku terlelap
maaf, jika hanya bisa memperjuangkanmu melalui setangkup doa. untuk luka dan sakit yang aku rasakan, tenanglah, aku percaya kelak akan tergantikan oleh bahagia. dan untuk “kita” serahkan saja pada sang waktu dan Dia.

kepada kenangan

Kepada kenangan…
Kau tak ubahnya seperti koin yang memiliki dua sisi. Senyuman dan tangis. Entah sudah berapa jumlah senyum dan tangis yang kau beri pada setiap langkah hidupku. Setiap apa yang ku lakukan, kemana ku pergi, dan dengan siapa aku melewati hari ini esoknya akan menjelma menjadi dirimu.  Aku tersenyum bisa memilikimu dalam hidupku. Iya, penawar rindu, aku bisa sejenak mengingat masa silam yang sangat aku rindukan untuk aku ulangi lagi. Tentangmu, tak hanya tentang senyum, tapi juga tangis. Terkadang kau sungguh liar, memaksaku untuk terus mengingatmu hingga tetesan air mataku tumpah, pecah.
Kepada kenangan…
Kau tahu, adalah pemujamu yang hebat. Tapi hari ini, aku mohon izinkanlah aku untuk memasukkanmu dalam sebuah kotak yang aku sebut dengan masa depan dan menguncimu dengan apa yang aku sebut keikhlasan dan harapan….

Rabu, 13 Maret 2013

Jogja, hujan dan sepotong kenangan

jogja selalu menghadirkan cerita tersendiri, begitupun dengan hujan. seperti ketika sore itu, ketika rinai hujan mampu menghadirkan sepotong cerita antara aku dan kamu. kamu, seseorang yang baru saja ku kenal yang pada akhirnya turut memberi cerita dan kenangan yang berkesan dalam ingatan. sejenak aku mengingat kembali sore itu, saat aku dan kamu sedang asyik menikmati suasana sore malioboro dan tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya. kita pun berlari mencari tempat berteduh hingga akhirnya kita menikmati hujan sore itu dalam becak. kamu tahu? sepanjang perjalanan, aku hanya bisa terdiam mengamati hujan sambil tersenyum dalam hati. ah, jogja dan hujan sore itu benar-benar mampu membuatku terpaku.
aku selalu suka hujan, bagiku hujan itu meneduhkan dan menyejukkan. tapi di hari itu entah kenapa sore itu hujan yang turun terasa berbeda. ketika tetesan hujan turun, semacam ada rasa yang menyeruak dari dalam hati. ada debar di setiap detik yang aku lewati. could it be love?


Kamu

kamu adalah seberkas cahaya yang menerangi sudut gelap hatiku
kamu adalah apa yang selalu aku sebut dalam setangkup doaku
kamu adalah sepenggal nama yang aku amankan dalam aminku
kamu adalah tetesan embun yang jatuh dari pelupuk mataku
kamu adalah sebuah lengkungan manis yang menghiasi pipiku
kamu adalah alasan kenapa aku ingin pulang ketika rindu menyergapku
kamu adalah sebuah asa yang dihadirkan oleh rasa
kamu adalah inspirasi dari segala cerita di buku harianku
kamu… semacam pribadi yang entah mengapa selalu aku angankan, inginkan, dan yang aku mau ada disitu

Dandellion


seperti dandelion…
tampak rapuh tapi sebenarnya kuat
dengan tangkai kecilnya ia mampu menahan terpaan angin
ketika bunga sedang merekah dengan indahnya, sang angin menghempasnya
bunga-bunga kecilnya pun mengikuti aliran angin, membawanya ke tempat baru dan ia akan tumbuh lagi
terhempas, terlepas, namun terlihat indah karena ia mengikhlaskan bagian dari dirinya untuk menjadi sesuatu yang baru, merelakan setiap kehilangan yang nantinya akan tergantikan….