As I grow to understand life less and less,I learn to love it more and more...

Senin, 20 April 2015

Senja Telah Berlalu


Senja telah berlalu
Namun perempuan itu masih duduk menunggu
Diam termenung dalam pergolakan hebat beribu ragu

Senja telah berlalu
Namun perempuan itu masih duduk termangu
Mencoba mengurai makna dari pertanyaan yang terus memburu

Senja telah berlalu
Namun perempuan itu masih duduk terpaku
Menggantungkan mimpinya pada musim yang tak tentu

Senja telah berlalu
Namun perempuan itu masih menyetia menunggu
Di antara kerlip kunang yang membawa pulang kenang


Selasa, 07 April 2015

Perempuan yang Merutuk Pagi





Teruntuk perempuan yang merutuk pagi...
Apalagi yang kau sesali? 
Kuberi tahu, sesal tak ada arti
Hanya akan membuat luka semakin nyeri

Alur kehidupan terkadang terasa memuakkan
Beribu harapan terkadang dipatahkan oleh satu kenyataan
Secercah asa terkadang tersamar oleh kabut keputusasaan
Dan langkah kaki tertahan oleh duri dan kerikil yang tak berkesudahan

Tidak! bukan duri ataupun kerikil yang menahan
Bukan suratan akan kenyaataan yang melemahkan
Bukan pula bayang masa lalu yang mengaburkan

Kau sendiri yang memegang kendali
Berdirilah! Berjalanlah!
Skenario ini baru setengah kau selesaikan

Setiap cerita memiliki epilog yang tak sama
Setiap peran mempunyai dialog yang berbeda
Meski tangis dan luka selalu hadir mendera
Percayalah... setiap kisah berujung pada simpul yang sama
Bahagia...








 



Di Bawah Langit Pagi



Selamat pagi langit biru.....
Bersama mentari kau hadirkan seberkas harapan tuk menyapa hati yang pilu.
Bersama kicauan burung yang merdu kau hibur jiwa yang sedang sendu.
Dan bersama semilir angin kau sampaikan salam rindu.

Untukmu....

Merangkai Aksara

Sudah dua tahun berlalu dan banyak cerita terlewati tanpa pernah digoreskan dalam rangkaian aksara.

Dan hari ini aku ingin menulis lagi!

Aku ingin kembali merangkai huruf demi huruf.
Aku ingin kembali mengurai makna dalam kata.
Dan aku ingin kembali mengabadikan rasa dalam bingkai aksara.

Sabtu, 17 Agustus 2013

kata hati

perihal meragu...
barangkali hatiku sebenarnya tahu apa yang aku mau
hanya saja aku terlalu takut melangkah maju

perihal menyerah...
barangkali hatiku tahu kalau ia masih ma(mp)u bertahan
hanya saja aku terlalu takut kesakitan

perihal melepaskan...
barangkali hatiku tahu bahwa ia belum sepenuhnya berjuang
hanya saja lelah terus memaksanya untuk menyerah

perihal mencintaimu..
hatiku tahu pasti bahwa ia masih, selalu dan akan selalu mencintaimu

Kamis, 25 Juli 2013

20

malam belum terlalu larut ketika dering ponselku berbunyi.laki-laki itu rupanya yang menelpon. dia, laki-laki yang sudah tujuh bulan ini berada di sisiku, melewati hari demi hari dan berbagi banyak cerita tentang kehidupan. segera aku beranjak ke luar rumah. tak perlu aku menjawab telepon darinya karena aku tahu bahwa dia pasti sudah menungguku di depan sekalipun dia tak memberi kabar tentang rencana kedatangannya. masih dengan hati yang sedikit dongkol karena pertengkaran kami semalam, aku berjalan menghampirinya. seulas senyum darinya menyambutku diiringi dengan sebuah kotak besar berbungkus kertas kado dan pita berwarna hijau. seketika aku tertegun melihatnya tersenyum sambil menyerahkan kado itu padaku dan berucap "maaf"
dia pun berlalu, segera aku masuk ke rumah dan membuka kotak besar itu, dan ternyata di dalamnya ada sebuah boneka, surat cinta, dan tujuh origami love. di balik rambut gondrongnya dan penampilannya yang acak-acakan, dia memang laki-laki yang manis dan berhati lembut. seketika aku mengingat sehari kemarin ketika kami bertengkar adalah tanggal 20. tanggal yang bagi orang lain mungkin biasa, tapi tidak bagi kami. 20, angka yang bermakna. dan mungkin karena terlalu bermakna ketika aku tidak menemaninya di hari itu, pertengkaran pun terjadi
aku mulai membaca rangkaian kata yang dia tulis, selama aku bersamanya, aku tahu kalau dia memang bukan tipe laki-laki yang suka menulis atau mengirimkan kata-kata puitis. mungkin karena kata terlalu rumit untuk menjelaskan semua perasaannya kepadaku. tapi, rangkaian kata yang dia tulis di surat itu ternyata mampu menghipnotisku

dear my love..
harus mulai dari mana kutulis kata-kata. terlalu banyak hal yang terekam dalam otakku. harus ku mulai dengan kebahagiaan atau kesedihan. terima kasih.. mungkin itulah yang paling pantas ku tulis terima kasih atas kebahagiaan yang tercurah padaku. terima kasih atas pelukan yang menghangatkanku. terima kasih atas senyuman yang menghangatkanku. tujuh bulan telah berlalu dengan ribuan kenangan. banyak rasa yang meninggalkan jejak di hatiku pada setiap lembaran harinya. aku berharap di hari yang akan datang. semoga aku tetapa dapat menjadi pendamping atas hati dan hidupmu. terasa sedikit kata-kata ini tertulis sebagai suara hatiku. maaf atas tak sempurnanya diriku..

lengkungan manis di wajahku pun tercipta kala aku membaca kata demi kata. terima kasih untuk wujud dari apa yang tak terwujud, mas, maaf bila aku pun belum bisa menjadi sosok yang sempurna untuk dirimu :)

Kamis, 20 Juni 2013

deja vu

Rintik gerimis menyambut ketika aku memasuki kota itu. Seketika hatiku bertanya, kenapa harus gerimis? Aku suka dengan gerimis ataupun hujan, tapi jujur hari itu aku tak ingin hujan turun. Sekalipun hujan tak turun, aku sadar bahwa kenangan itu memang selalu menyeruak liar memenuhi pikiran.

Berdiri di tempat ini, semacam memutar kembali rekam jejakmu yang pernah kamu torehkan disini, hati.Menyusuri alun-alun Jogja, benteng Vredeburg dan Malioboro. Tempat itu masih sama, tak ada yang berubah, namun aku merasa ada perasaan yang berbeda yang aku rasakan. Pernah merasa bahagia sekaligus sedih di saat yang bersamaan? itulah yang aku rasakan. Aku bahagia bisa kembali menginjakkan kakiku lagi di tempat ini. Seketika ada rindu hebat yang berdesir, perlahan tapi pasti, semakin besar dan membuncah hingga air mata pun tumpah, pecah.

Kau tahu? Setiap hujan turun dan menyentuh tubuhku, aku merasa teduh dan lebih hidup
Kau tahu? Setiap hujan turun, suara hatiku berteriak lantang memanggil namamu diantara derasnya suara rinai hujan. Tidak kah kau mendengarnya? 
Kau tahu? Setiap hujan turun, aku selalu melantunkan namamu lirih dan menitipkan beribu rindu dan harapanku ku pada hujan agar sampai ke tempatmu.
Kau tahu? Setiap hujan turun, aku selalu membayangkan kau datang dan mengajakku menari bersama hujan
Kau tahu? Aku masih berharap kelak kita menyusuri Malioboro dalam teduhnya hujan lagi

dan apa kau tahu? Aku masih mencintaimu diam-diam dengan dalam.