malam belum terlalu larut ketika dering ponselku berbunyi.laki-laki itu rupanya yang menelpon. dia, laki-laki yang sudah tujuh bulan ini berada di sisiku, melewati hari demi hari dan berbagi banyak cerita tentang kehidupan. segera aku beranjak ke luar rumah. tak perlu aku menjawab telepon darinya karena aku tahu bahwa dia pasti sudah menungguku di depan sekalipun dia tak memberi kabar tentang rencana kedatangannya. masih dengan hati yang sedikit dongkol karena pertengkaran kami semalam, aku berjalan menghampirinya. seulas senyum darinya menyambutku diiringi dengan sebuah kotak besar berbungkus kertas kado dan pita berwarna hijau. seketika aku tertegun melihatnya tersenyum sambil menyerahkan kado itu padaku dan berucap "maaf"
dia pun berlalu, segera aku masuk ke rumah dan membuka kotak besar itu, dan ternyata di dalamnya ada sebuah boneka, surat cinta, dan tujuh origami love. di balik rambut gondrongnya dan penampilannya yang acak-acakan, dia memang laki-laki yang manis dan berhati lembut. seketika aku mengingat sehari kemarin ketika kami bertengkar adalah tanggal 20. tanggal yang bagi orang lain mungkin biasa, tapi tidak bagi kami. 20, angka yang bermakna. dan mungkin karena terlalu bermakna ketika aku tidak menemaninya di hari itu, pertengkaran pun terjadi
aku mulai membaca rangkaian kata yang dia tulis, selama aku bersamanya, aku tahu kalau dia memang bukan tipe laki-laki yang suka menulis atau mengirimkan kata-kata puitis. mungkin karena kata terlalu rumit untuk menjelaskan semua perasaannya kepadaku. tapi, rangkaian kata yang dia tulis di surat itu ternyata mampu menghipnotisku
dear my love..
harus mulai dari mana kutulis kata-kata. terlalu banyak hal yang terekam dalam otakku. harus ku mulai dengan kebahagiaan atau kesedihan. terima kasih.. mungkin itulah yang paling pantas ku tulis terima kasih atas kebahagiaan yang tercurah padaku. terima kasih atas pelukan yang menghangatkanku. terima kasih atas senyuman yang menghangatkanku. tujuh bulan telah berlalu dengan ribuan kenangan. banyak rasa yang meninggalkan jejak di hatiku pada setiap lembaran harinya. aku berharap di hari yang akan datang. semoga aku tetapa dapat menjadi pendamping atas hati dan hidupmu. terasa sedikit kata-kata ini tertulis sebagai suara hatiku. maaf atas tak sempurnanya diriku..
lengkungan manis di wajahku pun tercipta kala aku membaca kata demi kata. terima kasih untuk wujud dari apa yang tak terwujud, mas, maaf bila aku pun belum bisa menjadi sosok yang sempurna untuk dirimu :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar