Membaca novel perahu kertas rasanya semacam membaca kisahku sendiri. adanya kesamaan cerita, Mungkin itulah alasan kenapa aku tak pernah bosan mengarungi ceritanya berkali-kali. Ingatanku beputar ke masa kecil. Aku ingat ketika hujan turun, aku akan merasa sangat bahagia karena aku bisa menari bersama hujan dan merasakan teduhnya. Selepas hujan, aku selalu melarungkan perahu kertas ku di selokan. Ada semacam perasaan yang tak tidak dapat ku deskripsikan ketika perahu kertas ku melaju dan tidak hancur terurai oleh air...
24 mei 2013...
Dengan perasaan yang berkecamuk, aku berdiri di tepian laut dan menikmati semilir angin. Aku selalu suka dengan laut. Seperti yang tertulis di novel perahu kertas, debur ombak adalah suara alam yang paling merdu. Namun entah kenapa sore itu aku kurang bisa menikmati alunan merdunya. Semacam ada rasa kecewa, marah, sedih yang kurasakan saat itu dan menangis tanpa air mata sakitnya memang juara.
Satu nama yang mampu menghancurkan seluruh sistem kinerja otak dan mengobrak-abrik perasaan. Aku telah tertampar kenyataan. harapan dan impian ku tentangnya seakan runtuh seketika setelah aku tahu bahwa dia memang bukan seharusnya untukku, Sekalipun perih, aku tetap tak ingin menyalahkannya atas kebohongan yang dia simpan sejak awal kami bertemu. Mungkin memang salahku yang menempatkan harapanku terlalu tinggi dan salah mengartikan tentang apa yang dia katakan padakau selama ini.
Sedari dulu logika selalu berkata "jauhi dan lupakan dia!" tapi hati terus melawan. Melupakan memang sia-sia, tidak akan bisa. Mungkin lebih tepatnya adalah menghilangkan perasaan. Tapi apapun itu, hati tetap tak bisa. Setiap menjauh dari satu nama itu, entah kenapa selalu ada kebetulan yang mempertemukanku dengannya, kebetulan yang disengaja Tuhan. Disampingku, ada seseorang yang begitu nyata, ada dan selalu membuat bahagia untukku tapi satu nama itu tetap saja mengikutiku, bahkan masih mendiami ruangan di hatiku.
Lelah... aku lelah berada dalam situasi seperti ini. Bertahan dalam kebohongan tak kan membawa kebahagiaan. Aku selalu membohongi diriku kalau aku sudah terlepas dari satu nama itu beserta segala kenangannya. Terlebih lagi aku juga membohongi seseorang yang begitu tulus menemani dan membahagiakanku. Mungkin benar seperti yang tertulis di novel perahu kertas bahwa,
hati kamu mungkin memilihku, seperti juga hatiku selalu memilihmu. Tapi hati bisa bertumbuh dan bertahan dengan pilihan lain. Kadang, begitu saja sudah cukup. Sekarang aku pun merasa cukup....
.....kamu adalah samuderaku. kularungkan perahu kertasku menuju tempatmu, entah nanti masih berbentuk sama atau akan hancur dihempas sang ombak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar