As I grow to understand life less and less,I learn to love it more and more...

Jumat, 26 Oktober 2012

Pertemuan Singkat

Pertengahan bulan juni 2008….
aku masih ingat bagaimana itu terjadi, sebuah pertemuan singkat yang ternyata mampu merubah hidupku terlebih perasaanku. Sebelumnya kita berkenalan dan berkomunikasi melalui dunia maya, berawal dari perkenalan biasa hingga akhirnya saling bertukar cerita sampai kita tahu bahwa kita berada dalam suatu lingkaran yang sama.  Ada getaran yang saya rasakan ketika kita pertama kali bertemu, saat kamu berjalan mendekat ke arahku. Getaran itu menjadi semakin bertalu-talu di setiap harinya. aku masih ingat, saat itu aku masih terikat dalam sebuah hubungan yang menurutku sudah sangat membebaniku. Dan dengan sekejap, beban itu hilang seketika ketika kamu datang. Kamu menyeka setiap buliran embun yang jatuh dari kelopak mataku, membasuh perih yang menutupi setiap sudut hatiku, dan mengganti tangis menjadi lengkungan manis di wajahku. It feels like you’re the candle in the dark...
Akhir desember 2011…
Mendung bergelayut di langit kota. Setelah mengalami perjalanan selama 3,5 tahun, tiba saat dimana kita memang mungkin lebih baik saling melepas. Siang itu, dengan perasaan yang berkecamuk, saya mencoba mengumpulkan sisa ketegaran yang saya miliki untuk menemui kamu. Duduk di samping kamu, aku mencoba menikmati sepiring spaghetti (makanan kesukaan kamu) dan bercengkerama dengan kamu. Tidak ada lagi kehangatan yang saya rasakan waktu itu. Ya, aku sadar kita telah sama-sama siap untuk menjadi orang asing tak lagi menjadi satu. Jujur, itu sangatlah berat tapi aku sadar, aku tidak dapat memaksakan untuk terus tinggal dan bertahan bila yang kamu inginkan adalah pergi. Sepulangnya, kamu bertanya kembali apa aku sudah siap untuk melewati hari tanpa kamu disisi.  Dengan menyunggingkan senyum, aku pun berkata, “aku akan baik-baik saja, tenanglah”. Hampir saja aku menangis tapi sekuat tenaga aku menahannnya. aku tidak mau terlihat cengeng, toh aku juga sudah bilang aku akan baik-baik saja. Lalu kamu pun pergi. Dan di siang itu yang ada hanyalah hujan dan punggung yang menjauh. Entah kenapa aku merasa sepertinya langit pun ikut menangis melihat kita.

Sekali lagi saya menguatkan diri aku, aku sadar bahwa kita telah saling mengakui, menerima, dan memaafkan.  Ya, tidak ada suatu hal yang abadi memang, begitu pula dengan suatu hubungan. Saat ini kita berdua telah memilih jalan kita masing-masing. Kelak, bila memang aku adalah bagian tulang rusukmu yang hilang, pastilah kita akan dipertemukan kembali oleh waktu dan Tuhan. Tapi bila memang tidak, semoga kamu mendapati seseorang yang bisa membuat kamu bahagia lebih dari saya dengan caranya.
PS: jangan lupakan kenangan kita ya… 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar