Pertengahan bulan juni 2008….
aku masih ingat bagaimana itu terjadi, sebuah pertemuan
singkat yang ternyata mampu merubah hidupku terlebih perasaanku.
Sebelumnya kita berkenalan dan berkomunikasi melalui dunia maya, berawal dari perkenalan
biasa hingga akhirnya saling bertukar cerita sampai kita tahu bahwa kita berada
dalam suatu lingkaran yang sama. Ada getaran
yang saya rasakan ketika kita pertama kali bertemu, saat kamu berjalan mendekat
ke arahku. Getaran itu menjadi semakin bertalu-talu di setiap harinya. aku masih
ingat, saat itu aku masih terikat dalam sebuah hubungan yang menurutku sudah
sangat membebaniku. Dan dengan sekejap, beban itu hilang seketika ketika kamu
datang. Kamu menyeka setiap buliran embun yang jatuh dari kelopak mataku,
membasuh perih yang menutupi setiap sudut hatiku, dan mengganti tangis menjadi
lengkungan manis di wajahku. It feels like you’re the candle in the dark...
Akhir desember 2011…
Mendung
bergelayut di langit kota. Setelah mengalami
perjalanan selama 3,5 tahun, tiba saat dimana kita memang mungkin lebih
baik
saling melepas. Siang itu, dengan perasaan yang berkecamuk, saya mencoba
mengumpulkan sisa ketegaran yang saya miliki untuk menemui kamu. Duduk
di
samping kamu, aku mencoba menikmati sepiring spaghetti (makanan kesukaan
kamu)
dan bercengkerama dengan kamu. Tidak ada lagi kehangatan yang saya
rasakan
waktu itu. Ya, aku sadar kita telah sama-sama siap untuk menjadi orang
asing
tak lagi menjadi satu. Jujur, itu sangatlah berat tapi aku sadar, aku
tidak
dapat memaksakan untuk terus tinggal dan bertahan bila yang kamu
inginkan
adalah pergi. Sepulangnya, kamu bertanya kembali apa aku sudah siap
untuk
melewati hari tanpa kamu disisi. Dengan
menyunggingkan senyum, aku pun berkata, “aku akan baik-baik saja,
tenanglah”.
Hampir saja aku menangis tapi sekuat tenaga aku menahannnya. aku tidak
mau
terlihat cengeng, toh aku juga sudah bilang aku akan baik-baik saja.
Lalu
kamu pun pergi. Dan di siang itu yang ada hanyalah hujan dan punggung
yang menjauh.
Entah kenapa aku merasa sepertinya langit pun ikut menangis melihat
kita.
Sekali lagi saya menguatkan diri aku, aku sadar bahwa kita telah saling mengakui, menerima, dan memaafkan. Ya, tidak ada suatu hal yang abadi memang, begitu pula dengan suatu hubungan. Saat ini kita berdua telah memilih jalan kita masing-masing. Kelak, bila memang aku adalah bagian tulang rusukmu yang hilang, pastilah kita akan dipertemukan kembali oleh waktu dan Tuhan. Tapi bila memang tidak, semoga kamu mendapati seseorang yang bisa membuat kamu bahagia lebih dari saya dengan caranya.
Sekali lagi saya menguatkan diri aku, aku sadar bahwa kita telah saling mengakui, menerima, dan memaafkan. Ya, tidak ada suatu hal yang abadi memang, begitu pula dengan suatu hubungan. Saat ini kita berdua telah memilih jalan kita masing-masing. Kelak, bila memang aku adalah bagian tulang rusukmu yang hilang, pastilah kita akan dipertemukan kembali oleh waktu dan Tuhan. Tapi bila memang tidak, semoga kamu mendapati seseorang yang bisa membuat kamu bahagia lebih dari saya dengan caranya.
PS: jangan lupakan kenangan kita ya…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar